Tugas 3 Ilmu Sosial Dasar Makalah tentang (KESADARAN DIRI, KELEMAHAN DAN KELEBIHAN DIRI SENDIRI)

Z 

MAKALAH

ILMU SOSIAL DASAR

KESADARAN DIRI KELEMAHAN DAN KELEBIHAN DIRI SENDIRI

 

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah ILMU SOSIAL DASAR

Dosen Pembimbing : HERRY SUSSANTO, DR. SE., MM.



Disusun oleh:

Harry Lutfiansyah                 (10120501/1KA16)

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI JURUSAN SISTEM INFORMASI PRODI ILMU SOSIAL DASAR

UNIVERSITAS GUNADARMA

2020

 


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...........................................................................................................

KATA PENGANTAR............................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN......................................................................................

1.1   LATAR BELAKANG.......................................................................

1.2   RUMUSAN MASALAH ..................................................................

1.3   TUJUAN PEMBAHASAN................................................................

BAB II. PEMBAHASAN.......................................................................................

2.1  KESADARAN DIRI..............................

        2.1.1    PENGERTIAN KESADARAN DIRI..................................

        2.1.2    KECAKAPAN DALAM KESADARAN DIRI...................

        2.1.3    TAHAPAN-TAHAPAN KESADARAN DIRI....................

BAB III. PENUTUP...............................................................................................

            3.1    Kesimpulan........................................................................................

            3.2    Saran.................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “KESADARAN DIRI KELEMAHAN DAN KELEBIHAN DIRI SENDIRI” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Herry Sussanti, Dr. Se., Mm. selaku Dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial Dasar, FIKTI Universitas Gunadarma yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi tugas Pengantar Ilmu Sosial Dasar dengan judul “KESADARAN DIRI KELEMAHAN DAN KELEBIHAN DIRI SENDIRI”. Disamping itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terselesaikanlah makalah ini.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

 

 

                                                         

                                                          Jakarta, 27 Oktober 2020

 

 

   Penyusun




BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Pemahaman diri yang objektif akan membuat seseorang mengerti akan dirinya, termasuk kelemahan dan kelebihan yang dimiliki serta bisa bersikap positif dalam menanggapi kelemahan dan kelebihan yang ada. Menurut Loekmono (dalam Kartono, 1985) tujuan mengenal dan memahami diri sendiri bukannya untuk membuat orang menjadi kecewa setelah mengetahui bagaimana kepribadian dirinya, tetapi diharapakan agar setelah mengenal dan memahami dirinya sendiri seseorang dapat menerima kenyataan yang ada lalu berusaha dengan yang ada pada dirinya untuk mengembangkan pribadinya agar sehat dan memiliki karakteristik yang positif. Dan menghargai diri sendiri dan orang lain, tidak lepas dari kehidupan kita di dunia ini,dimana-mana kita menemukan makna menghargai. Menghargai teman bermain, menghargai guru-guru di sekolah, menghargai orang lain walaupun tidak di kenal, yang paling utama adalah menghargai orang tua. Kita harus belajar saling menghargai satu sama lain, memberikan nilai baik pada karya-karya orang lain, bagaimana perkataan atau sikap kita terhadap orang lain, tidak dapat diulang kembali.

 

 

 

 

 

1.2   RUMUSAN MASALAH

1. Arti dan pentingnya tujuan hidup.

2. Kekurangan dan kelebihan dalam mencapai tujuan hidup.

3. Kiat-kiat mengatasi kekurangan dan meningkatkan kelebihan.

 

1.3   TUJUAN PEMBAHASAN

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menambah pengetahuan dan juga pemahaman terhadap diri dan orang lain. Hal itu terdiri dari pemahaman menenai apa, bagaimana, serta upaya yang dibutuhkan dan diperlukan pada tahap mengenal, memahami dan juga menghargai diri sendiri dan orang lain. Sehingga dengan pengetahuan yang kita miliki, kita akan lebih mengenal dan menghargai diri kita sebagai individu serta orang lain sebagai individu yang unik secara holistic.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Kesadaran Diri

2.1.1. Pengertian Kesadaran Diri
Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali perasaan dan mengapa seseorang merasakannya seperti itu dan pengaruh perilaku seseorang terhadap orang lain. Kemampuan tersebut diantaranya; kemampuan menyampaikan secara jelas pikiran dan perasaan seseorang, membela diri dan mempertahankan pendapat (sikap asertif), kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dan berdiri dengan kaki sendiri (kemandirian), kemampuan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan orang dan menyenangi diri sendiri meskipun seseorang memiliki kelemahan (penghargaan diri), serta kemampuan mewujudkan potensi yang seseorang miliki dan merasa senang (puas) dengan potensi yang seseorang raih di tempat kerja maupun dalam kehidupan pribadi (aktualisasi).1 Kesadaran diri merupakan dasar kecerdasan emosional. Kemampuan untuk memantau emosi dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Seseorang yang mempunyai kecerdasan emosi akan berusaha menyadari emosinya ketika emosi itu menguasai dirinya. Namun kesadaran diri ini tidak berarti bahwa seseorang itu hanyut terbawa dalam arus emosinya tersebut sehingga suasana hati itu menguasai dirinya sepenuhnya. Sebaliknya kesadaran diri adalah keadaan ketika seseorang dapat menyadari emosi yang sedang menghinggapi pikirannya akibat permasalahan-permasalahan yang dihadapi untuk selanjutnya ia dapat menguasainya. Orang yang mempunyai keyakinan lebih tentang emosinya diibaratkan pilot yang handal bagi kehidupannya. Karena ia mempunyai kepekaan yang lebih 1 Steven J. Stein, and Book, Howard E, Ledakan EQ : 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses, terj. Trinanda Rainy Januarsari dan Yudhi Murtanto, Kaifa, Bandung, 2003, hlm. 39 9 tinggi akan emosi mereka yang sesungguhnya. Orang yang kesadaran dirinya bagus maka ia mampu untuk mengenal dan memilih-milah perasaan, memahami hal yang sedang dirasakan dan mengapa hal itu dirasakan dan mengetahui penyebab munculnya perasaan tersebut.2 Kesadaran diri merupakan pondasi hampir semua unsur kecerdasan emosional, langkah awal yang penting untuk memahami diri sendiri dan untuk berubah. Sudah jelas bahwa seseorang tidak mungkin bisa mengendalikan sesuatu yang tidak ia kenal.3 Para ahli mempunyai pendapat yang beragam tentang kesadaran diri. Diantaranya menurut Mayer seorang ahli psikologi dari University of new Hampshire yang menjadi koformulator teori kecerdasan, berpendapat bahwa kesadaran-diri berarti waspada baik terhadap suasana hati maupun pikiran seseorang tentang suasana hati. 4 Goleman menjelaskan kesadaran diri yaitu perhatian terus menerus terhadap keadaan batin seseorang. Dalam keadaan refleksi diri ini, pikiran mengamati dan menggali pengalaman, termasuk emosi.5 May seorang psikiater yang mempelopori pendekatan eksistensial yang dikutip oleh Koesworo menjelaskan bahwa kesadaran-diri adalah sebagai kapasitas yang memungkinkan manusia mampu mengamati dirinya sendiri maupun membedakan dirinya dari dunia (orang lain), serta kapasitas yang memungkinkan manusia mampu menempatkan diri di dalam waktu (masa kini, masa lampau, dan masa depan).6 Binswanger dan Boss menggambarkan kesadaran-diri adalah salah satu ciri yang unik dan mendasar pada manusia, yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Pendek kata dalam pandangan mereka, kesadaran-diri adalah kapasitas yang memungkinkan manusia bisa hidup 2 Daniel Goleman, Emotional Intelligence Why it Can Matter More Than IQ, Bantam Books, New York, 1996, hlm. 58 3 Steven J. Stein, and Book, Howard E, Ledakan EQ : 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses, hlm.75 4 Daniel Goleman, Emotional Intelligence Why it Can Matter More Than IQ, hlm. 64 5 Daniel Goleman, Emotional Intelligence Why it Can Matter More Than IQ, hlm. 63 6 E. Koeswara, Psikologi Eksistensial Suatu Pengantar, PT Eresco, Bandung, 1987, hlm. 31 10 sebagai pribadi yang utuh dan penuh. Mereka akan menolak istilah kepribadian apabila istilah tersebut menunjuk kepada sekumpulan trait atau sifat-sifat yang tetap pada diri manusia. Mereka mengembangkan konsep ada-dalam-dunia yaitu; dunia fisikal atau dunia biologis (Umlet), dunia manusia atau dunia sosial (Mitwelt), dunia diri sendiri termasuk kebutuhan manusia (Eigenwelt). Mereka percaya bahwa kepribadian setiap individu adalah unik dan dapat dibedakan dari caranya mengada di dalam atau berelasi dengan ketiga taraf dunia itu. Yang dimaksud “dunia” menurut pandangan Husserl, sebenarnya bukan dunia sebagaimana dipahami atau diinterpretasikan oleh teori-teori ilmiah. Dunia yang secara langsung dan tanpa perantara, dialami oleh setiap individu didalam kehidupan sehari-hari. Tidak lain adalah gejala atau fenomena murni. Inilah dunia yang dihidupi, dihayati, atau dialami oleh manusia. Sedangkan gagasan tentang perkembangan keberadaan dengan bertumpu pada konsep pemenjadian (becoming) dan konsep yang mereka kembangkan sendiri, yakni konsep ada-di-luar-dunia, berikut kebebasan dan tanggung jawab. Konsep pemenjadian menerangkan bahwa keberadaan adalah dinamis dan selalu berproses menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya. Artinya bahwa manusia terdapat kesanggupan untuk mentransendensikan dirinya di dalam dunia (pengalaman) baru yang ditujukan kepada realisasi kemungkinan-kemungkinan (potentialities) dari keberadaannya.7 Dalam pandangan Frankl kebebasan berkeinginan adalah ciri yang unik dari keberadaan dan pengalam manusia. Manusia tidak hanya sanggup mengambil sikap terhadap dunia, tetapi juga sanggup dan bebas mengambil sikap terhadap dirinya sendiri, menerima atau menolak dirinya. Dengan mengambil sikap atau mengambil jarak terhadap dirinya sendiri, manusia bisa keluar dari ruangan biologis dan psikologisnya, dan masuk ke dalam ruang noologis (dimensi spiritual). Suatu dimensi atau ruang tempat manusia hadir sebagai fenomena yang berbeda dari makhluk 7 Ibid, hlm. 31 11 lainnya. Dengan memasuki ruang noologis atau dimensi spiritual, manusia meninggikan martabatnya sebagai manusia, sebagai makhluk yang hidupnya tidak semata-mata dikuasai oleh ketentuan-ketentuan biologis dan psikologisnya. Di dalam ruang noologis inilah terletak kebebasan berkeinginan dari manusia.8 Menurut Chaplin kesadaran-diri adalah kesadaran mengenai proses-proses mental sendiri atau mengenai eksistensi sebagai individu yang unik.9 Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kesadaran diri (self conciousness) adalah salah satu ciri yang unik dan mendasar pada manusia, di mana manusia tersebut mempunyai kesadaran meng-adadalam-dunia (umwelt, mitwelt, eigenwelt). Juga kesadaran meng-ada-diluar-dunia (becoming = pemenjadian) yaitu kebebasan yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab. Umwelt dapat dipahami sebagai “dunia ser” (dunia natural), kalau dunia biologis disamakan dengan lingkungan (environment) yaitu berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan biologis; dorongan-dorongan, naluri-naluri. Bisa diartikan dunia hukum alam dan perputaran ilmiah, dunia tidur dan terjaga, lahir dan mati. Mitwelt artinya perhubungan manusia dengan manusia lain, pada manusia berlangsung komunikasi yang melibatkan makna, makna orang lain sebagian ditentukan oleh perhubungan dengan sesamanya, esensi dari perhubungan adalah bahwa perjumpaan (encounter) kedua pribadi diubah. Perhubungan selalu melibatkan kesadaran timbal-balik, dan ini selalu terjadi dalam suatu perjumpaan. Sedangkan eigenwelt artinya kesadaran diri, yang berhubungan dengan diri sendiri dan cara khas hadir dalam diri manusia. Sebagai dasar dan diatas dasar itu manusia melihat dunia nyata dalam prespektif yang sebenarnya.
2.1.2. Kecakapan Dalam Kesadaran Diri
    Goleman, menyebutkan ada tiga kecakapan utama dalam kesadaran diri, yaitu:
A. Mengenali emosi; mengenali emosi diri dan pengaruhnya. Orang dengan kecakapan ini akan:
1) Mengetahui emosi makna yang sedang mereka rasakan dan mengapa terjadi.
2) Menyadari keterkaitan antara perasaan mereka dengan yang mereka pikirkan.
3) Mengetahui bagaimana perasaan mereka mempengaruhi kinerja.
4) Mempunyai kesadaran yang menjadi pedoman untuk nilai-nilai dan sasaran-sasaran mereka.
B. Pengakuan diri yang akurat; mengetahui sumber daya batiniah, kemampuan dan keterbatasan ini. Orang dengan kecakapan ini akan :
1) Sadar tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya.
2) Menyempatkan diri untuk merenung, belajar dari pengalaman, terbuka bagi umpan balik yang tulus, perspektif baru, mau terus belajar dan mengembangkan diri.
3) Mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang diri sendiri dengan perspektif yang luas.
 
 
C. Kepercayaan diri; kesadaran yang kuat tentang harga diri dan kemampuan diri sendiri. Orang dengan kemampuan ini akan:
1) Berani tampil dengan keyakinan diri, berani menyatakan “keberadaannya”.
2) Berani menyuarakan pandangan yang tidak popular dan bersedia berkorban demi kebenaran.
3) Tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan tidak pasti.
 
Kesadaran diri dalam kecerdasan emosi yakni mampu mengenal dan memilah-milah perasaan, menyadari kehadiran eksistensi emosi, mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri. Sehingga dengan mengetahui seseorang bisa mendayagunakan, mengekspresikan, mengendalikan dan juga mengkomunikasikan dengan pihak lain. Dari berbagai ketrampilan kecerdasan emosional yang paling mendasar adalah penyadaran diri. Karena tanpa menyadari apa yang seseorang rasakan, seseorang tidak akan mampu bertindak dan berpikir tepat sesuai dengan situasi yang ada.11 Penyadaran diri adalah langkah mendasar menuju kematangan emosi. Tanpanya manusia sulit untuk mengembangkan emosi secara dewasa. Berbicara soal pentingnya penyadaran emosi, sebenarnya tidak terbatas dalam konteks EQ saja. Dalam kehidupan sehari-hari pun kematangan emosi dapat dimulai dengan menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa penyadaran diri termasuk penyadaran diri adalah kemampuan manusia menjadi pengendalian kehidupan yang dijalani. Intinya, jangan sampai seseorang terperangkap dalam aktivitas yang tidak mampu dipahami.
 
2.1.3. Tahapan-Tahapan Kesadaran diri
Kesadaran diri yang dimiliki remaja dapat mempengaruhi perkembangan diri sendiri dan bahkan perkembangan sesamanya. Sebab manusia tampil diluar diri dan berefleksi atas keberadaannya. Oleh sebab itu kesadaran diri sangat fundamental bagi pertumbuhan remaja. Menurut Sastrowardoyo untuk mencapai kesadaran diri yang kreatif seseorang harus melalui empat tahapan yaitu:
A.    Tahap ketidaktahuan
Tahap ini terjadi pada seorang bayi yang belum memiliki kesadaran diri, atau disebut juga dengan tahap kepolosan.
 
 
 
B.     Tahap berontak
Tahap ini identik memperlihatkan permusuhan dan pemberontakan untuk memperoleh kebebasan dalam usaha membangun “inner strength”. Pemberontakan ini adalah wajar sebagai masa transisi yang perlu dialami dalam pertumbuhan, menghentikan ikatan-ikatan lama untuk masuk ke situasi yang baru dengan keterikatan yang baru pula.
 
C.     Tahap kesadaran normal akan diri
 Dalam tahap ini seseorang dapat melihat kesalahankesalahannya untuk kemudian membuat dan mengambil tindakan yang bertanggung jawab. Belajar dari pengalaman-pengalaman sadar akan diri disini dimaksudkan satu kepercayaan yang positif terhadap kemampuan diri. Kesadaran diri ini memperluas pengendalian manusia atas hidupnya dan tahu bagaimana harus mengambil keputusan dalam hidupnya.
D.    Tahap kesadaran diri yang kreatif.
Dalam tahapan ini seseorang mencapai kesadaran diri yang kreatif mampu melihat kebenaran secara objektif tanpa disimpangkan oleh perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan subjektifnya. Tahapan ini bisa diperoleh antara lain melalui aktivitas religius, ilmiah atau dari kegiatan-kegiatan lain diluar kegiatan-kegiatan yang rutin. Melalui tahapan ini seseorang mampu melihat hidupnya dari perspektif yang lebih luas, bisa memperoleh inspirasi-inspirasi dan membuat peta mental yang menunjukan langkah dan tindakan yang akan diambilnya

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.  KESIMPULAN

Mengenal diri merupakan salah satu ciri khas manusia, sebagai makhluk istimewa, terutama karena memiliki akal budi dan kehendak bebas. Mengenal diri: suatu keberhasilan memahami hal-hal yang penting tentang diri sendiri dan orang lain, yang membantu dalam usaha membangun sikap baik dan positif, mau menerima dan mengembangkan diri sendiri dan orang lain. Utamanya: mengenal kepribadian, watak dan temperamen, bakat dan potensi, serta dapat memetakan diri sendiri perihal kekuatan dan kelemahan.

Penerimaan diri merupakan sikap positif terhadap dirinya sendiri, ia dapat menerima keadaan dirinya secara tenang, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mereka bebas dari rasa bersalah, rasa malu, dan rendah diri karena keterbatasan diri serta kebebasan dari kecemasan akan adanya penilaian dari orang lain terhadap keadaan dirinya.

Menghargai adalah suatu sikap menghormati dan menjaga diri sendiri, tidak membiarkannya terlantar dan menjadi beban orang lain, serta tidak membiarkannya, diperalat atau dimanipulasi oleh orang lain.

 

B.  SARAN

Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca agar dapat menelaah dan memahami apa yang telah tertulis dalam makalah ini sehingga sedikit banyak bisa menambah pengetahuan pembaca mengenai mengenal, menerima dam menghargai diri sendiri dan orang lain. Di samping itu kami juga mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca sehingga kami bisa menjadi lebih baik pada makalah kami dikemudian hari.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSAKA

Hall, Calvin S. & Lindzey, Gardner. (2001). Teori-Teori Holistic. Yogyakarta: Kanisus Media

 

Nurmuharimah, Saniyanti. (2007). Get Smart PKN. Bandung: Grafindo Media Pratama

Sumartono. (2004). Komunikasi Kasih Sayang. Jakarta: Gramedia

Azizah, Ima. (2012). Mengenal Diri Sendiri.

Diambil dari http://iimazizah.wordpress.com/2012/10/22/mengenal-diri-sendiri/ . Pada tanggal 10 Oktober 2014.

 

Abdurrohman, Yusuf. (2013). Penerimaan diri Apa Adanya Adalah Modal. Diambil dari http://www.yusufabdurrohman.com/2013/04/penerimaan-diri-apa-adanya-adalah-modal.html. Pada tanggal 10 Oktober 2014.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas 1 Ilmu Sosial Dasar Makalah tentang (INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT)