PUISI TENTANG CINTA KASIH SAYANG KEPADA IBUNDA
PUISI TENTANG CINTA KASIH SAYANG
KEPADA IBUNDA
Untuk
Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata
Kuliah ILMU BUDAYA DASAR#
Dosen
Pembimbing : DINI DWI ERMAWATI
Disusun
oleh:
Harry
Lutfiansyah Teguh Purnomo (10120501/1KA16)
FAKULTAS
ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI JURUSAN SISTEM INFORMASI PRODI ILMU
SOSIAL DASAR
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2021
KeTiKa RaSa
TaK DaPaT Di UnGkAp DeNgAn KaTa
Mengungkapkan
perasaan sayang serta cinta kepada sang ibunda bisa disampaikan dengan cara
yang beragam. Salah satunya melalui puisi yang indah nan menyentuh.
Ibu
merupakan sosok wanita paling berjasa bagi semua manusia di dunia. Semua orang
terlahir dari rahim seorang ibu. Kurang lebih selama sembilan bulan ibu
mengandung hingga akhirnya melahirkan.
Setelah
itu, seorang ibu merawat sang buah hati hingga beranjak dewasa. Tak pernah ada
keluh kesal dari seorang ibu selama merawat dan membesarkan anaknya.
Itulah
mengapa, seorang anak wajib bersyukur karena telah mendapat kasih sayang dari
seorang ibu. Beragam cara bisa dilakukan sebagai tanda syukur kepada ibu
tercinta.
Kamu
bisa menulis atau membaca puisi tentang ibu sebagai rasa syukur. Puisi tentang
ibu yang menyentuh hati bisa mewakili perasaan.
Puisi
tentang ibu juga bisa kamu jadikan doa agar ibu selalu dinaungi kebaikan dan
diberikan kesehatan. Ada banyak puisi tentang ibu yang bisa kamu baca sebagai
bentuk rasa sayang.
Berikut
beberapa contoh puisi untuk ibunda tercinta
Ibu
yang Hebat Untukku
Tuhan menciptakan ibu yang hebat. .
Ibu yang ngga pernah menua. .
Dia membuat senyumannya seperti cahaya . .
dan Dia menjaga hatinya seperti emas . .
Dalam matanya terpancar sinar bintang yang berkilau . .
Dalam wajahnya terdapat banyak bunga yang indah . .
Tuhan menciptakan ibu yang hebat . .
dan Dia memberi ibu itu untukk
Ibuku Sang Penyabar
Kau sering bangunkan ku ketika
subuh
Meski itu selalu tak membuat aku
luluh
Kau selalu memanjakanku di pagi
hari
Meski terkadang aku tak
bersemangat
Kau selalu memberi sapaan hangat
Dengan senyum pagi, terbaiknya
Kadang aku sesekali acuh
kepadanya
Namun ia selalu baik dalam
bertutur kata
Kadang aku sesekali melawan
perintahnya
Namun ia selalu sabar tiada
batasnya
Dialah si penyabar itu
Dengan segala kekuranganku
Ia selalu menutupi itu
Aku sayang ibu
Maafkan semua kesalahan anak mu
bu
Kesunyian Ibu
Dahinya adalah jejak sujud yang
panjang
Perjalanan waktu membekas di
pelupuk matanya
Derai air mata di pipinya telah
mengering
Tanpa sisa, tanpa ada yang
menduga
Ia memilih jalan sunyi untuk
bertanya
Hiruk pikuk untuk tersenyum di
beranda derita
Menjerit saat lelap berkuasa
Berdoa bukan untuk dirinya
Sekian
puisi ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Terimakasih

Komentar
Posting Komentar